ini memang bukan kali pertamaku berkunjung ke Baduy Dalam. Sekitar 2 tahun yang lalu ak sudah pernah berkunjung, juga bersama dengan WABI. maka dari itulah, bagi kami yg sudah pernah berkunjung disebut dengan alumni. selain karena memang membantu mempromosikan ke temen2 yg lain mengenai budaya baduy, memang rasanya sudah rindu untuk kembali berbaur dengan mereka, menikmati ketenangan, kesejukannya, dan serta kesederhanaanya. ada banyak hal yg bisa kita petik dari adat istiadat baduy dalam.
mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan peserta trip kali ini.
peyelenggara trip Baduy Dalam kali ini diketuai oleh padep Saloute Suwarsono, bang Zaenal, Njang Basri, bang Ipan, bang Khuro dan kawan2 dari OCC lainnya.
diantara kami yg disebut dengan alumni adalah Pak Nana Ekaryana, aku, budep Herdiana. ak sendiri mengajak Dwi Syafitri yg emang hobi banget jalan, mas Situn Rasitun yg demen kelayaban di gunung, Eka yg diajak mas Situn Rasitun, dan tentu saja...Diah Byanto yg sengaja kuperkenalkan dengan budaya Baduy Dalam agar supaya dia bisa banyak belajar dari suku Baduy. selama ini Diah Byanto itu taunya cuma cafe, mol, gunung dan pantai. mungkin dia belum pernah mendengar bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku2 terasing yg perlu kita kenal agar supaya kita lebih merasa Indonesia. budep Herdiana mengajak Nina Rahman dan Andriani. mereka jg kali pertama berkunjung ke Baduy Dalam.
pak nana senior kita mengajak anak gadisnya, si cantik Chaerunnisa. ada bang Guruh Iskandar, ada bang Joko dan satu lagi ak blm sempet merekam namanya..ehee..maap yaa...trus ada Atta dan gacoanya yg selalu nempel kayak perangko..(eciyehh mupeng).
yukk dilanjut ceritanya
kemaren sampe mana ya...ohiyaa udah malam yaa. okeh..
dalam cuaca hujan yang cukup deras, tentu saja kami belum bisa berkeliling melihat2 sekitar perkampungan. selepas isya, istri pak Jakri telah selesai memasak. dikarenakan bu Jakri memasak didapur yg skaligus sebagai satu2nya kamar dirumah itu, kami peserta cewek sungkan ikut membantu. karena tentu saja kami harus ikut masuk kedalam kamar/ daput tersebut. dan sepertinya mereka memang tak berniat meminta bantuan atw memang merasa bisa menyelesaikan masakan sendiri dengan dibantu oleh anak2nya. dan tibalah saat yg dinanti2kan..makan malam. menunya sederhana saja. nasi dari padi hasil panen yg cenderung krg pulen, ikan asin, mie instan, ikan olahan, ceplok telor yg sebagian memang sengaja kami beli dan bawa dari baduy luar (ciboleger). penduduk baduy dalam sendiri dalam kesehariannya sebenernya makan dengan menu yg sangat sederhana. nasi, ikan asin dan agak jarang memasak sayuran. tapi apapun yg tersaji malam itu, rasanya luarr biasa enaknya...yg jelas karena kami memang sudah sangat lapar. cuaca, kebersamaan dan ketulusan dalam memasak membuat menu malam itu terasa nikmat sekali (lebayy dahh ahh).
Dan inilah legenda ituu, berawal pada kesempatan yg lalu dikunjungan pertamaku, ak menemukan fakta bahwa ada pisang rasa kentang. Bohong?buah hasil kawinan?Bukannn!!! Pisang itu tetap berbentuk pisang pada umumnya. Dan pisang itu hanya direbus. karena pisang tersebut blm sempurna masak, kemudian direbus, maka hasilnya adalah pisang yg mengkel dan cukup manis, yg pada akhirnya terasa seperti kita makan kentang rebus. Entah cuma ak ajja yg merasakan demikian, atau teman2 yg lain juga. Yang jelas menurutku inilah enaknya. Bahkan terkadang mereka membakarnya. Rasanya jauh lebih nikmat jika dimakan dengan gula aren. Mungkin kita orang ‘kota’ mengenalnya dengan getuk pisang. enaaakkk...
selesai makan bersama, kami melanjutkan obrolan dengan pak Jakri dan beberapa tetangga yg sengaja ikut bergabung dalam obrolan. sebagian teman2 yg baru berkunjung, banyak mengajukan pertanyaan2 seputar adat istiadat dan sejarah baduy dalam. dan obrolan semakin syahdu karena salah satu dari bapak itu mengambil sebuah alat musik yg mirip dengan harpa. bedanya adalah ini buatan sendiri. tak mengenal tangga nada, tp suaranya indah dan penuh harmoni. dan mereka tak pernah sama sekali belajar musik secara khusus, tetapi menggunakan feeling untuk memainkannya. dan ternyata memang enak didengar dan menenangkan (lebih tepatnya ngantukin alias bikin ngantuk karena saking terlenanya..ehee).
ditengah keasikan obrolan dan mendengarkan harpa, datanglah sebagian dari peserta cowok yg sepertinya sepulang dari berkeliling perkampungan. mereka bergabung dalam obrolan. ditengah2 asiknya obrolan kami, tiba2 Seruni menyerahkan sebuah bungkusan kantong plastik ke padep Saloute Suwarsono dengan tanpa sepatah katapun. kemudian padep Saloute bertanya apa dan untuk siapa bungkusan tersebut. barulan Seruni menjawab dengan polos dan tanpa beban, bahwa bungkusan tersebut adalah hasil muntahannya dan dia meminta tolong untuk membuangnya. serentak kami semua tertawa terbahak2, apalagi dengan melihat tampang padep yg nampak sangat bingung. memang benar sekali keputusan Seruni menyerahkan hasil muntahannya ke padep. karena memang dimana2 pak deputy itu maunya terima data mateng, yg sudah tak perlu diolah kembali. itulah hasilnya. hiyekk...ini sepenggal cerita joroknya. tak lama kemudian barulah pak Nana, ayah Seruni datang. makin kenceng tawa kami menyaksikan kejadian itu.
obrolan kami terhenti karena ternyata Pak Jakri diundang untuk semacam rapat oleh Jaro. sebagian melanjutkan orbolan sendiri2, sebagian lagi bersiap untuk beristirahat, karena walo masih cukup sore, cuaca dan suasana sudah terasa cocok banget buat tidur.ehee,..
pagi hari ini terasa lebih sejuk karena sisa hujan semalam. aliran air di kali (sungai) juga lebih deras. aku berwudhu dan sekaligus mandi (sebut saja begitu) ke 'kamar mandi' beramai2. sejuk dan asyiknyaa..pengalaman yg seruu. karena bahkan di rumahku di cilacap sana ak blm pernah mandi spt itu. di kali, air dari kali langsung dan kamar mandi (agak) terbuka beratap pohon rindang. ihihihi..semoga aman dari pengintip2.
selepas sarapan kami bersiap untuk kembali ke ciboleger. packing dan membersihkan sampah2 sekitar ruangan yg semalam kami gunakan untuk tidur. saatnya berpamitan. berat rasanya harus segera kembali, tp mau gimana lagi. sesuai aturan dari Puun, tamu yg datang tidak diperbolehkan menginap lebih dari semalam didalam. kecuali jika dia berniat untuk tinggal selamanya disana, dan itupun tdk mudah persyaratannya.
Banyak hal unik yg aku temui disana. Mereka tidak banyak menggunakan perabotan dari benda2 logam kecuali pisau, golok dan sejenisnya. Dan itupun digunakan untuk keperluan meladang. Perabot rumah tangga lebih banyak menggunakan kayu ataupun bambu. Tidak ada ember, gayung, bahkan cermin alias kacapun tak ada. Sebegitu sederhananya cara hidup mereka. Tak banyak yg mereka pikirkan seperti kita pada umumnya masyarakat ‘kota’. Mereka hanya fokus pada berbuat baik, meladang, mengurus rumah tangga. Dan mungkin akan begitu seterusnya.
Oiya..selama tinggal disana, kita tidak boleh menggunakan ponsel, camera, dan teknologi lainnya. Itu juga peraturan baku nya. Jika ada yg kedapatan mencuri2 kesempatan, akan dikenakan sanksi adat oleh Jaro dan Puun. Maksud mereka mgkn demi ketenangan, dan tak ingin mengeksploitasi kehidupan mereka ke dunia luar. Mereka hanya ingin hidup tenang. Selain itu, kita juga tidak diperkenankan menggunakan berbagai jenis produk sabun, shampo dan sejenisnya untuk mandi. Jadi mereka juga hanya menggunakan daun2an alami yg fungsinya sama dengan produk sejenisnya. Ak dan temen2pun akhirnya cuma bisa sikat gigi tanpa pasta gigi, ‘mandi’ tanpa sabun dan shampo. Poloss cuma menggunakan air kali/ sungai aja. Tohh tetep segaarrr rasanya. Pantaslah aroma masyarakat suku Baduy Dalam khas banget..hihihi.
Beranjak siang, rombongan kami bersiap untuk kembali ke Ciboleger. Meninggalkan kenangan dan ketenangan di Baduy Dalam. Sebelum pulang, tentu saja kami harus berterimakasih sekaligus pamit dengan Jaro. Dan bersyukur bisa menemui Jaro yg dirumahnya. Karena agak jarang kesempatan itu didapat. Biasanya Jaro sibuk di ladang atau keperluan keluar Baduy. Bisa jadi urusan tentang perladangan atau tugas dari Puun.
Akhirnya rombongan kami pulang (30/11/14) beriringan keluar perkampungan Baduy Dalam. Menyelusuri hutan2 yg rindang, udara sejuk, dengan jalanan yg becek karena hujan semalaman. Beberapa dari peserta ada yg sempat bikin stempel pant*t di tanah saking licinnya jalanan. Disitulah perlunya tongkat dan teman untuk bergandengan untuk mencegah proses stempel tanah. Tapi jadi banyak tercipta cerita. Ada Diah Byanto yg jalan agak lambat karena dengkulnya mungkin terkilir. Ak sengaja tak menemaninya, karena ak juga pengen segera sampai di Ciboleger untuk segera mandi yg sebenarnya dan berkemas. Lagipula perjalanan jauh, akan sangat lambat jika saling menunggu. Tapi aku agak tenang meninggalkan Diah jauh dibelakang..karena Diah didampingi oleh pak Jakri dan 2 orang baduy lagi. Diah diledekin terus sm Pak Jakri, di PHP in dibilang sudah gak ada tanjakan. Padahal mgkn maksud Pak Jakri bagi dia bukan tanjakan, tapi bagi kitaa..itu menanjak penuh ratapan tiada henti..jahhhhh. Diah dapet julukan ibu Ratu dari ketiga orang baduy itu,,iihihhi. Karena jalannya pelan dan dikawal oleh 3 orang. Hebat kann..sekalinya berkunjung ke baduy langsung dikawal 3 orang...beruntung kamu dii..ahaahahaah
Akhirnya kami berpencar masing2 sesuai kekuatan kaki. Sesekali ak berada paling depan, sesekali jg lama beristirahat dan tertinggal teman yg lain. Nina Rahman yg mungkin karena blm kebayang gimana trek menuju Baduy Dalam, dia memakai sendal biasa untuk keseharian. Disitulah repotnya. Licin dan tentu saja kurang nyaman untuk medan yg spt itu. Menanjak, sesekali menurun dan licin. Akhirnya dengan tongkat dan bergandengan dengan padep, NIna bisa melanjutkan perjalanan meski agak lambat. Ak sendiri banyak terbantu dengan tongkat, untuk menahan ketika menemukan jalan menurun. Beberapa kali ak menemukan baling2 bambu yg dibuat oleh orang baduy. Suaranya nyaring hampir mirip heli yg mau mendarat. Serasa di Belandaa..eheeee.
Pada saat kunjungan yg sebelumnya, bangkhuro alias kukuh sempat terjatuh di kali yg berbatu. Saat itu kali dalam keadaan kering. Antara ngantuk dan mungkin memang sudah lelah, dia jatuh tepat dibelakangku. Untungnya ada tas keril yg melindungi kepalanya dari batu2an besar. Untungnya dia gak kenapa2, cuma sempet gak sadar sebentar. Nahh kemaren mustinya napak tilas, ahahah...tp ternyata kita ambil jalur yg berbeda dengan jalur tahun lalu. Dekat dari tkp itu, ketemu pohon jambu air..enaaakkk. Ada anak baduy yg metikin. Asyiikkk...
Sampai di jembatan Gajeboh, otomatis saatnya berfoto2. Kurang puas sih sebenernya, karena cuma sebentar dan sedikit foto yg bisa diambil. Kita harus buru2 sampai ke Ciboleger biar gak kesiangan.
Sampai di Ciboleger kami bergantian mandi dan makan siang. Dan karena ternyata banyak tamu yg lain juga, kita terpaksa antri untuk dapat giliran mandi. Sebagian yg lainnya mencari kamar mandi berbayar ditempat lain. Ada juga yg mungkin gak mandi..hihihihi...
Sebelum pulang dan naik ke tronton, seperti biasa kami sempatkan untuk berfoto keluarga alias full team full peserta di tugu Ciboleger.
Dan perjalanan pulang dimulai. Kami sempet ketemu macet di daerah rangkas, karena ada perbaikan jalan. Tp tentu saja gak terlalu berasa karena sepanjang jalan kami ngobrol dan saling bercanda.
Peserta pertama yg turun duluan adalah Dwi Syafitrie, karena dia akan ke Serang ke tempat tinggalnya. Ada Andriani yg turun di kebon jeruk dan aku, Diah, mas Rasitun serta Eka yg turun di Palmerah. Peserta sisanya turun di TMP Kalibata sesuai meeting point semula.
Kesahajaan suku baduy dalam menjalani hidup patut kita contoh. Tak banyak yg dipikir, fokus dan tetap sederhana. Tuhan tahu mana yg baik dan pasti Tuhan berikan jalan dan rejeki untuk kita. Mereka selalu yakin, maka mereka teguh dalam memegang prinsip serta istiqomah.
Entah mungkin masih ada kesempatan selanjutnya atau tidak, yg jelas kesempatan berkunjung ke Baduy Dalam takkan terlupakan.
Bersama kawan2 seperjalanan, berkenalan, berjalan beriringan, berbagi tawa, berbagi cerita, memperpanjang tali silaturahim.
Semoga kesempatan seperti ini bisa hadir setiap saat. Aamiin...
Mamaciih buat penyelenggara (padep Saloute suwarsuwirrrrr) abah Anik Tea-jorokmann, bang Zaenal-coolman, Njang Basri jutekssman, bangkhuroo-stempelman, bang Ryan-medicalboxman, bang Ipan-jailgokilman, pa Nana ekaryana yg kerenn dan iseng dg kameraanya, si cantik Seruni, partner in crime- budep Herdiana, adek Diah Byanto-Iburatu Baduy, Dwi Syafitrie-camdignarsisgirl, mas Situn dan Eka, Atta dan Rudi-coupleofthistrip, Andri dan Nina-orangketigaantarabudepdanpadep, bang mojo dan kawannya (maap lupa namanya) dan peserta yg lainnya yg mgkn lupa disebut..jangan marahhh jangan berkecil hatii...pokoknya kalian ada dihati...
Maaf yaa...atas celetukan, tingkah dan perilaku nyleneh dan menyakitkan dariku, semoga kalian kapok, ehh...semoga kalian gak kapok dan menyesal pernah mengenalku...
See youu next trip...
Salam Indonesia cantiikk....
mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan peserta trip kali ini.
peyelenggara trip Baduy Dalam kali ini diketuai oleh padep Saloute Suwarsono, bang Zaenal, Njang Basri, bang Ipan, bang Khuro dan kawan2 dari OCC lainnya.
diantara kami yg disebut dengan alumni adalah Pak Nana Ekaryana, aku, budep Herdiana. ak sendiri mengajak Dwi Syafitri yg emang hobi banget jalan, mas Situn Rasitun yg demen kelayaban di gunung, Eka yg diajak mas Situn Rasitun, dan tentu saja...Diah Byanto yg sengaja kuperkenalkan dengan budaya Baduy Dalam agar supaya dia bisa banyak belajar dari suku Baduy. selama ini Diah Byanto itu taunya cuma cafe, mol, gunung dan pantai. mungkin dia belum pernah mendengar bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku2 terasing yg perlu kita kenal agar supaya kita lebih merasa Indonesia. budep Herdiana mengajak Nina Rahman dan Andriani. mereka jg kali pertama berkunjung ke Baduy Dalam.
pak nana senior kita mengajak anak gadisnya, si cantik Chaerunnisa. ada bang Guruh Iskandar, ada bang Joko dan satu lagi ak blm sempet merekam namanya..ehee..maap yaa...trus ada Atta dan gacoanya yg selalu nempel kayak perangko..(eciyehh mupeng).
yukk dilanjut ceritanya
kemaren sampe mana ya...ohiyaa udah malam yaa. okeh..
dalam cuaca hujan yang cukup deras, tentu saja kami belum bisa berkeliling melihat2 sekitar perkampungan. selepas isya, istri pak Jakri telah selesai memasak. dikarenakan bu Jakri memasak didapur yg skaligus sebagai satu2nya kamar dirumah itu, kami peserta cewek sungkan ikut membantu. karena tentu saja kami harus ikut masuk kedalam kamar/ daput tersebut. dan sepertinya mereka memang tak berniat meminta bantuan atw memang merasa bisa menyelesaikan masakan sendiri dengan dibantu oleh anak2nya. dan tibalah saat yg dinanti2kan..makan malam. menunya sederhana saja. nasi dari padi hasil panen yg cenderung krg pulen, ikan asin, mie instan, ikan olahan, ceplok telor yg sebagian memang sengaja kami beli dan bawa dari baduy luar (ciboleger). penduduk baduy dalam sendiri dalam kesehariannya sebenernya makan dengan menu yg sangat sederhana. nasi, ikan asin dan agak jarang memasak sayuran. tapi apapun yg tersaji malam itu, rasanya luarr biasa enaknya...yg jelas karena kami memang sudah sangat lapar. cuaca, kebersamaan dan ketulusan dalam memasak membuat menu malam itu terasa nikmat sekali (lebayy dahh ahh).
Dan inilah legenda ituu, berawal pada kesempatan yg lalu dikunjungan pertamaku, ak menemukan fakta bahwa ada pisang rasa kentang. Bohong?buah hasil kawinan?Bukannn!!! Pisang itu tetap berbentuk pisang pada umumnya. Dan pisang itu hanya direbus. karena pisang tersebut blm sempurna masak, kemudian direbus, maka hasilnya adalah pisang yg mengkel dan cukup manis, yg pada akhirnya terasa seperti kita makan kentang rebus. Entah cuma ak ajja yg merasakan demikian, atau teman2 yg lain juga. Yang jelas menurutku inilah enaknya. Bahkan terkadang mereka membakarnya. Rasanya jauh lebih nikmat jika dimakan dengan gula aren. Mungkin kita orang ‘kota’ mengenalnya dengan getuk pisang. enaaakkk...
selesai makan bersama, kami melanjutkan obrolan dengan pak Jakri dan beberapa tetangga yg sengaja ikut bergabung dalam obrolan. sebagian teman2 yg baru berkunjung, banyak mengajukan pertanyaan2 seputar adat istiadat dan sejarah baduy dalam. dan obrolan semakin syahdu karena salah satu dari bapak itu mengambil sebuah alat musik yg mirip dengan harpa. bedanya adalah ini buatan sendiri. tak mengenal tangga nada, tp suaranya indah dan penuh harmoni. dan mereka tak pernah sama sekali belajar musik secara khusus, tetapi menggunakan feeling untuk memainkannya. dan ternyata memang enak didengar dan menenangkan (lebih tepatnya ngantukin alias bikin ngantuk karena saking terlenanya..ehee).
ditengah keasikan obrolan dan mendengarkan harpa, datanglah sebagian dari peserta cowok yg sepertinya sepulang dari berkeliling perkampungan. mereka bergabung dalam obrolan. ditengah2 asiknya obrolan kami, tiba2 Seruni menyerahkan sebuah bungkusan kantong plastik ke padep Saloute Suwarsono dengan tanpa sepatah katapun. kemudian padep Saloute bertanya apa dan untuk siapa bungkusan tersebut. barulan Seruni menjawab dengan polos dan tanpa beban, bahwa bungkusan tersebut adalah hasil muntahannya dan dia meminta tolong untuk membuangnya. serentak kami semua tertawa terbahak2, apalagi dengan melihat tampang padep yg nampak sangat bingung. memang benar sekali keputusan Seruni menyerahkan hasil muntahannya ke padep. karena memang dimana2 pak deputy itu maunya terima data mateng, yg sudah tak perlu diolah kembali. itulah hasilnya. hiyekk...ini sepenggal cerita joroknya. tak lama kemudian barulah pak Nana, ayah Seruni datang. makin kenceng tawa kami menyaksikan kejadian itu.
obrolan kami terhenti karena ternyata Pak Jakri diundang untuk semacam rapat oleh Jaro. sebagian melanjutkan orbolan sendiri2, sebagian lagi bersiap untuk beristirahat, karena walo masih cukup sore, cuaca dan suasana sudah terasa cocok banget buat tidur.ehee,..
pagi hari ini terasa lebih sejuk karena sisa hujan semalam. aliran air di kali (sungai) juga lebih deras. aku berwudhu dan sekaligus mandi (sebut saja begitu) ke 'kamar mandi' beramai2. sejuk dan asyiknyaa..pengalaman yg seruu. karena bahkan di rumahku di cilacap sana ak blm pernah mandi spt itu. di kali, air dari kali langsung dan kamar mandi (agak) terbuka beratap pohon rindang. ihihihi..semoga aman dari pengintip2.
selepas sarapan kami bersiap untuk kembali ke ciboleger. packing dan membersihkan sampah2 sekitar ruangan yg semalam kami gunakan untuk tidur. saatnya berpamitan. berat rasanya harus segera kembali, tp mau gimana lagi. sesuai aturan dari Puun, tamu yg datang tidak diperbolehkan menginap lebih dari semalam didalam. kecuali jika dia berniat untuk tinggal selamanya disana, dan itupun tdk mudah persyaratannya.
Banyak hal unik yg aku temui disana. Mereka tidak banyak menggunakan perabotan dari benda2 logam kecuali pisau, golok dan sejenisnya. Dan itupun digunakan untuk keperluan meladang. Perabot rumah tangga lebih banyak menggunakan kayu ataupun bambu. Tidak ada ember, gayung, bahkan cermin alias kacapun tak ada. Sebegitu sederhananya cara hidup mereka. Tak banyak yg mereka pikirkan seperti kita pada umumnya masyarakat ‘kota’. Mereka hanya fokus pada berbuat baik, meladang, mengurus rumah tangga. Dan mungkin akan begitu seterusnya.
Oiya..selama tinggal disana, kita tidak boleh menggunakan ponsel, camera, dan teknologi lainnya. Itu juga peraturan baku nya. Jika ada yg kedapatan mencuri2 kesempatan, akan dikenakan sanksi adat oleh Jaro dan Puun. Maksud mereka mgkn demi ketenangan, dan tak ingin mengeksploitasi kehidupan mereka ke dunia luar. Mereka hanya ingin hidup tenang. Selain itu, kita juga tidak diperkenankan menggunakan berbagai jenis produk sabun, shampo dan sejenisnya untuk mandi. Jadi mereka juga hanya menggunakan daun2an alami yg fungsinya sama dengan produk sejenisnya. Ak dan temen2pun akhirnya cuma bisa sikat gigi tanpa pasta gigi, ‘mandi’ tanpa sabun dan shampo. Poloss cuma menggunakan air kali/ sungai aja. Tohh tetep segaarrr rasanya. Pantaslah aroma masyarakat suku Baduy Dalam khas banget..hihihi.
Beranjak siang, rombongan kami bersiap untuk kembali ke Ciboleger. Meninggalkan kenangan dan ketenangan di Baduy Dalam. Sebelum pulang, tentu saja kami harus berterimakasih sekaligus pamit dengan Jaro. Dan bersyukur bisa menemui Jaro yg dirumahnya. Karena agak jarang kesempatan itu didapat. Biasanya Jaro sibuk di ladang atau keperluan keluar Baduy. Bisa jadi urusan tentang perladangan atau tugas dari Puun.
Akhirnya rombongan kami pulang (30/11/14) beriringan keluar perkampungan Baduy Dalam. Menyelusuri hutan2 yg rindang, udara sejuk, dengan jalanan yg becek karena hujan semalaman. Beberapa dari peserta ada yg sempat bikin stempel pant*t di tanah saking licinnya jalanan. Disitulah perlunya tongkat dan teman untuk bergandengan untuk mencegah proses stempel tanah. Tapi jadi banyak tercipta cerita. Ada Diah Byanto yg jalan agak lambat karena dengkulnya mungkin terkilir. Ak sengaja tak menemaninya, karena ak juga pengen segera sampai di Ciboleger untuk segera mandi yg sebenarnya dan berkemas. Lagipula perjalanan jauh, akan sangat lambat jika saling menunggu. Tapi aku agak tenang meninggalkan Diah jauh dibelakang..karena Diah didampingi oleh pak Jakri dan 2 orang baduy lagi. Diah diledekin terus sm Pak Jakri, di PHP in dibilang sudah gak ada tanjakan. Padahal mgkn maksud Pak Jakri bagi dia bukan tanjakan, tapi bagi kitaa..itu menanjak penuh ratapan tiada henti..jahhhhh. Diah dapet julukan ibu Ratu dari ketiga orang baduy itu,,iihihhi. Karena jalannya pelan dan dikawal oleh 3 orang. Hebat kann..sekalinya berkunjung ke baduy langsung dikawal 3 orang...beruntung kamu dii..ahaahahaah
Akhirnya kami berpencar masing2 sesuai kekuatan kaki. Sesekali ak berada paling depan, sesekali jg lama beristirahat dan tertinggal teman yg lain. Nina Rahman yg mungkin karena blm kebayang gimana trek menuju Baduy Dalam, dia memakai sendal biasa untuk keseharian. Disitulah repotnya. Licin dan tentu saja kurang nyaman untuk medan yg spt itu. Menanjak, sesekali menurun dan licin. Akhirnya dengan tongkat dan bergandengan dengan padep, NIna bisa melanjutkan perjalanan meski agak lambat. Ak sendiri banyak terbantu dengan tongkat, untuk menahan ketika menemukan jalan menurun. Beberapa kali ak menemukan baling2 bambu yg dibuat oleh orang baduy. Suaranya nyaring hampir mirip heli yg mau mendarat. Serasa di Belandaa..eheeee.
Pada saat kunjungan yg sebelumnya, bangkhuro alias kukuh sempat terjatuh di kali yg berbatu. Saat itu kali dalam keadaan kering. Antara ngantuk dan mungkin memang sudah lelah, dia jatuh tepat dibelakangku. Untungnya ada tas keril yg melindungi kepalanya dari batu2an besar. Untungnya dia gak kenapa2, cuma sempet gak sadar sebentar. Nahh kemaren mustinya napak tilas, ahahah...tp ternyata kita ambil jalur yg berbeda dengan jalur tahun lalu. Dekat dari tkp itu, ketemu pohon jambu air..enaaakkk. Ada anak baduy yg metikin. Asyiikkk...
Sampai di jembatan Gajeboh, otomatis saatnya berfoto2. Kurang puas sih sebenernya, karena cuma sebentar dan sedikit foto yg bisa diambil. Kita harus buru2 sampai ke Ciboleger biar gak kesiangan.
Sampai di Ciboleger kami bergantian mandi dan makan siang. Dan karena ternyata banyak tamu yg lain juga, kita terpaksa antri untuk dapat giliran mandi. Sebagian yg lainnya mencari kamar mandi berbayar ditempat lain. Ada juga yg mungkin gak mandi..hihihihi...
Sebelum pulang dan naik ke tronton, seperti biasa kami sempatkan untuk berfoto keluarga alias full team full peserta di tugu Ciboleger.
Dan perjalanan pulang dimulai. Kami sempet ketemu macet di daerah rangkas, karena ada perbaikan jalan. Tp tentu saja gak terlalu berasa karena sepanjang jalan kami ngobrol dan saling bercanda.
Peserta pertama yg turun duluan adalah Dwi Syafitrie, karena dia akan ke Serang ke tempat tinggalnya. Ada Andriani yg turun di kebon jeruk dan aku, Diah, mas Rasitun serta Eka yg turun di Palmerah. Peserta sisanya turun di TMP Kalibata sesuai meeting point semula.
Kesahajaan suku baduy dalam menjalani hidup patut kita contoh. Tak banyak yg dipikir, fokus dan tetap sederhana. Tuhan tahu mana yg baik dan pasti Tuhan berikan jalan dan rejeki untuk kita. Mereka selalu yakin, maka mereka teguh dalam memegang prinsip serta istiqomah.
Entah mungkin masih ada kesempatan selanjutnya atau tidak, yg jelas kesempatan berkunjung ke Baduy Dalam takkan terlupakan.
Bersama kawan2 seperjalanan, berkenalan, berjalan beriringan, berbagi tawa, berbagi cerita, memperpanjang tali silaturahim.
Semoga kesempatan seperti ini bisa hadir setiap saat. Aamiin...
Mamaciih buat penyelenggara (padep Saloute suwarsuwirrrrr) abah Anik Tea-jorokmann, bang Zaenal-coolman, Njang Basri jutekssman, bangkhuroo-stempelman, bang Ryan-medicalboxman, bang Ipan-jailgokilman, pa Nana ekaryana yg kerenn dan iseng dg kameraanya, si cantik Seruni, partner in crime- budep Herdiana, adek Diah Byanto-Iburatu Baduy, Dwi Syafitrie-camdignarsisgirl, mas Situn dan Eka, Atta dan Rudi-coupleofthistrip, Andri dan Nina-orangketigaantarabudepdanpadep, bang mojo dan kawannya (maap lupa namanya) dan peserta yg lainnya yg mgkn lupa disebut..jangan marahhh jangan berkecil hatii...pokoknya kalian ada dihati...
Maaf yaa...atas celetukan, tingkah dan perilaku nyleneh dan menyakitkan dariku, semoga kalian kapok, ehh...semoga kalian gak kapok dan menyesal pernah mengenalku...
See youu next trip...
Salam Indonesia cantiikk....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar