Jumat sore ini (28/11/14) dengan agak tergesa aku dan Diah byanto
mengejar waktu untuk segera sampai di TMP Kalibata. Sudah terlampu
terlambat dr jam semestinya untuk berkumpul. Dan benarlah, tinggal kami
berdua yg ditunggu. Maaf..tp ak yakin teman2 menikmati penantian penuh
kegembiraan dengan obrolan.
Tiba di Kalibata tak lantas langsung berangkat, tp kami masih menunggu bu deputi Herdiana Prasetyaningrum yg plg dinas dari Bandung. Barulah setelah beliau tiba, panitia memberikan pengantar serta mengajak kami berdoa demi keselamatan trip kali ini.
Bismillah...berangkatlah kami menuju Ciboleger.
Selama perjalanan, karena mgkn blm banyak saling mengenal, walo sbagian sudah saling kenal, banyak kami habiskan dalam diam dan kantuk. Hanya sesekali saja terdengar obrolan sekilas. Sisanya tentu saja didominasi suara dengkuran serupa roda ban hartop yg kejebak kubangan lumpur...zzzztztztzzttz...
Tiba di ciboleger (29/11/14) menjelang subuh..sejuknya udara pagi menyambut kulit dan bilik2 jantung kami yg hauss udara segar (ihh lebayy). Sebagian kami melanjutkan mimpi yg terpenggal, sebagian lagi bersiap menjelang azan subuh (biar nampak religius kisah kali ini..wkwkwk).
Bangun, bebersih (mau nyebut mandi kayaknya krg sempurna krn sebagian kami cuma kebagian air utk lap iler sama ook mata..jiahhhyekk) sarapan dan bersiap utk trekking.
Adalah wajib bagi kami utk melakukan pengenalan dan pemanasan sebelum trekking, tentunya selain utk keselamatan juga untuk saling mengetahui tampang2 kawan2 yg akan seperjalanan kali ini. Penting kenapa? Yakarena nantinya mereka teman2 yg akan membantu kita selama perjalanan, saling menggandeng, saling menguatkan, saling mendorong dan saling membully (ini kelakuan gue aja ding kayaknya). Kan ga lucu ajja klo pas dijalan ga kenal wajah temen serombongan, apalagii tak mengenal nama. 'Haaii fulaan..tolong bantuu gandeng aku..tanjakan ini begitu terjal..' ahhh udh lebay banget kan kalimat minta tolongnya..nahh makanya kenal wajah dan kenal nama cukup penting. Masalah nanti kedepannya mau dilanjutkan untuk dimodusin itu kan pilihan ke masing2 orang..wkwkwk (bukan gue inimah).
Baruu brrp meter melangkah ajja kami sudah poto2, dan aku yakin bukan aku seorang yg sukkaa sesi berpoto..semua org nampak bagai pasir terseret magnet begitu liat ada kamera teracung oleh seseorang. Merapat, menyiapkan pose dan tak lupa senyum lima jari..nampak sekali kami berbahagia ketika kamera sudah mulai mengabadikan pose2 kami, dan kemudian kecewa waktu kami dibubarkan karena harus melanjutkan perjalanan yg belum seberapa jauhnya dr start.
Cuaca kali kali ini mendung dan tak jarang gerimis turun menemani. Romantis sih..tp sayang membuat jalanan licin dan tak sedikit yg nyaris terpeleset karenanya.
Alhamdulillah perjalanan cukup lancar, tak ada yg cidera, cuma mgkn bbrp yg sempet bikin stempel dijalanan yg nampak sangat mirip dengan lelehan coklat sebuah merk yg sangat enyaaakk ituu..
Akhirnya kami bergiliran sampai dibaduy dalam selepas dhuhur disambut keheningan yg menenangkan. Cenderung sepi, karena sebagian besar penghuninya tengah di ladang. Kami hanya disambut anak2 dan bbrp org tua saja.
Rumah panggung bambu tanpa paku siap menyambut lelehan keringat, kaki kami yg lelah, menampung punggung kami yg rebah, tapi dengan hati yg damai.
Gemericik suara aliran air disungai selalu saja nampak seperti lagu yg meninabobokan hati yg lelah (jiahhh), tp kantuk kami tertahan krn perut kami yg membuatnya terjaga. Bang Ipan dg sigap bongkar kerilnya, menyiapkan alat perangnya. Dan kamii tsewek2 berbondong2 menghampirinya dengan membawa piring dan sedok siap menerima segelas teh manis dan mie instan. Dan rasanya mie instan yg biasanya terasa biasa, kali ini terasa lebihh enakk drpd menu2 resto di mol sekalipun (lagi2 boong ajaa..) laper emg bikin kalap..ehee.
Setelah cukup kenyang, kami bergegas ke kali (sungai) utk bebersih dan bersiap utk sholat (lagi2 nampak spt pencitraan yaa..wkwkwk) krn waktu dhuhur nyaris habis. Sekalian mandi (krg tepat disebut mandi, tp anggaplah begitu). Sejuknya air kali membuat kami betahh main airr setelah lelah dan berkeringat selama perjalanan.
Selesai semuanya, kami kemudian duduk2 manis bak anak gadis bersiap digoda para bujang yg bakal lewat depan rumah..hihihihi.. Ngobrol dengan peserta lain, saling bercerita pengalaman selama perjalanan.
Menjelang malam, suasana semakin romantis kerana gerimis turun yg kemudian cukup besar. Makin merapatkan kempitan tangan diketiak dan ringkukan kaki.
Tak banyak yg bs kami lakukan dalam cuaca hujan, selain ngobrol dengan sesama teman dan dengan bapak dan ibu yg rumahnya kami inapi. Bbrp dari kami ada yg minta dibuatkan gelang secara langsung. Dan bahkan ada yg dibuatkan sejak matahari blm tenggelam sampai gelap. Dasar bang Ipan itu emg adda ajja maunya.
Menjelang malam, kami sempatkan berkumpul untuk sarasehan dengan bapak2 baduy dalam. Mengajukan cukup banyak pertanyaan ttg sejarah, keseharian, budaya dll.. Sesekali pertanyaan kita nyleneh, tp dengan terbuka dan bahkan menggoda dijawabnya oleh mereka. Kebersihan hati memang sangat membahagiakan. Hidup mereka nampak nyaris tanpa beban. Berbuat baik dan terus berbuat baik..itu saja yg mereka usahakan.
Tiba di Kalibata tak lantas langsung berangkat, tp kami masih menunggu bu deputi Herdiana Prasetyaningrum yg plg dinas dari Bandung. Barulah setelah beliau tiba, panitia memberikan pengantar serta mengajak kami berdoa demi keselamatan trip kali ini.
Bismillah...berangkatlah kami menuju Ciboleger.
Selama perjalanan, karena mgkn blm banyak saling mengenal, walo sbagian sudah saling kenal, banyak kami habiskan dalam diam dan kantuk. Hanya sesekali saja terdengar obrolan sekilas. Sisanya tentu saja didominasi suara dengkuran serupa roda ban hartop yg kejebak kubangan lumpur...zzzztztztzzttz...
Tiba di ciboleger (29/11/14) menjelang subuh..sejuknya udara pagi menyambut kulit dan bilik2 jantung kami yg hauss udara segar (ihh lebayy). Sebagian kami melanjutkan mimpi yg terpenggal, sebagian lagi bersiap menjelang azan subuh (biar nampak religius kisah kali ini..wkwkwk).
Bangun, bebersih (mau nyebut mandi kayaknya krg sempurna krn sebagian kami cuma kebagian air utk lap iler sama ook mata..jiahhhyekk) sarapan dan bersiap utk trekking.
Adalah wajib bagi kami utk melakukan pengenalan dan pemanasan sebelum trekking, tentunya selain utk keselamatan juga untuk saling mengetahui tampang2 kawan2 yg akan seperjalanan kali ini. Penting kenapa? Yakarena nantinya mereka teman2 yg akan membantu kita selama perjalanan, saling menggandeng, saling menguatkan, saling mendorong dan saling membully (ini kelakuan gue aja ding kayaknya). Kan ga lucu ajja klo pas dijalan ga kenal wajah temen serombongan, apalagii tak mengenal nama. 'Haaii fulaan..tolong bantuu gandeng aku..tanjakan ini begitu terjal..' ahhh udh lebay banget kan kalimat minta tolongnya..nahh makanya kenal wajah dan kenal nama cukup penting. Masalah nanti kedepannya mau dilanjutkan untuk dimodusin itu kan pilihan ke masing2 orang..wkwkwk (bukan gue inimah).
Baruu brrp meter melangkah ajja kami sudah poto2, dan aku yakin bukan aku seorang yg sukkaa sesi berpoto..semua org nampak bagai pasir terseret magnet begitu liat ada kamera teracung oleh seseorang. Merapat, menyiapkan pose dan tak lupa senyum lima jari..nampak sekali kami berbahagia ketika kamera sudah mulai mengabadikan pose2 kami, dan kemudian kecewa waktu kami dibubarkan karena harus melanjutkan perjalanan yg belum seberapa jauhnya dr start.
Cuaca kali kali ini mendung dan tak jarang gerimis turun menemani. Romantis sih..tp sayang membuat jalanan licin dan tak sedikit yg nyaris terpeleset karenanya.
Alhamdulillah perjalanan cukup lancar, tak ada yg cidera, cuma mgkn bbrp yg sempet bikin stempel dijalanan yg nampak sangat mirip dengan lelehan coklat sebuah merk yg sangat enyaaakk ituu..
Akhirnya kami bergiliran sampai dibaduy dalam selepas dhuhur disambut keheningan yg menenangkan. Cenderung sepi, karena sebagian besar penghuninya tengah di ladang. Kami hanya disambut anak2 dan bbrp org tua saja.
Rumah panggung bambu tanpa paku siap menyambut lelehan keringat, kaki kami yg lelah, menampung punggung kami yg rebah, tapi dengan hati yg damai.
Gemericik suara aliran air disungai selalu saja nampak seperti lagu yg meninabobokan hati yg lelah (jiahhh), tp kantuk kami tertahan krn perut kami yg membuatnya terjaga. Bang Ipan dg sigap bongkar kerilnya, menyiapkan alat perangnya. Dan kamii tsewek2 berbondong2 menghampirinya dengan membawa piring dan sedok siap menerima segelas teh manis dan mie instan. Dan rasanya mie instan yg biasanya terasa biasa, kali ini terasa lebihh enakk drpd menu2 resto di mol sekalipun (lagi2 boong ajaa..) laper emg bikin kalap..ehee.
Setelah cukup kenyang, kami bergegas ke kali (sungai) utk bebersih dan bersiap utk sholat (lagi2 nampak spt pencitraan yaa..wkwkwk) krn waktu dhuhur nyaris habis. Sekalian mandi (krg tepat disebut mandi, tp anggaplah begitu). Sejuknya air kali membuat kami betahh main airr setelah lelah dan berkeringat selama perjalanan.
Selesai semuanya, kami kemudian duduk2 manis bak anak gadis bersiap digoda para bujang yg bakal lewat depan rumah..hihihihi.. Ngobrol dengan peserta lain, saling bercerita pengalaman selama perjalanan.
Menjelang malam, suasana semakin romantis kerana gerimis turun yg kemudian cukup besar. Makin merapatkan kempitan tangan diketiak dan ringkukan kaki.
Tak banyak yg bs kami lakukan dalam cuaca hujan, selain ngobrol dengan sesama teman dan dengan bapak dan ibu yg rumahnya kami inapi. Bbrp dari kami ada yg minta dibuatkan gelang secara langsung. Dan bahkan ada yg dibuatkan sejak matahari blm tenggelam sampai gelap. Dasar bang Ipan itu emg adda ajja maunya.
Menjelang malam, kami sempatkan berkumpul untuk sarasehan dengan bapak2 baduy dalam. Mengajukan cukup banyak pertanyaan ttg sejarah, keseharian, budaya dll.. Sesekali pertanyaan kita nyleneh, tp dengan terbuka dan bahkan menggoda dijawabnya oleh mereka. Kebersihan hati memang sangat membahagiakan. Hidup mereka nampak nyaris tanpa beban. Berbuat baik dan terus berbuat baik..itu saja yg mereka usahakan.
bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar